ASAS PRESUMPTIO IUSTAE CAUSA DALAM KTUN: PENUNDAAN PELAKSNAAN KTUN OLEH HAKIM PERADILAN UMUM

Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title ASAS PRESUMPTIO IUSTAE CAUSA DALAM KTUN: PENUNDAAN PELAKSNAAN KTUN OLEH HAKIM PERADILAN UMUM
ASAS PRESUMPTIO IUSTAE CAUSA DALAM KTUN: PENUNDAAN PELAKSNAAN KTUN OLEH HAKIM PERADILAN UMUM
 
Creator Suriadinata, Vincent
 
Description One of the important principles in administrative law is the principle of Presumptio Iustae Causa which states that the administrative decision must be deemed to betrue according to law. Therefore, it can be carried out as long as it is not proven otherwise by the administrative law judges declaring that it is against the law. By the laws, the administrative law judges are given the authority to declare a delay in the implementation and validity of an administrative decision. A legal question has arisen when the decision no. 53/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2017/ PN Jkt.Pst was issued by the District Court. It stated that the Decree of the Minister of Law and Human Rights which was claimed to be the legal standing of the plaintiff must be tested first to review its validity, causing the law suit was not accepted by the Court. The case has pointed out that the District Court’s judges have exceeded their authority since it is not their authority to review the validity of an administrative decision.
Salah satu prinsip penting dalam hukum administrasi negara adalah asas Presumptio Iustae Causa yang menyatakan bahwa setiap keputusan tata usaha negara (KTUN) yang dikeluarkan harus dianggap benar menurut hukum, karenanya dapat dilaksanakan lebih dahulu selama belum dibuktikan sebaliknya dan dinyatakan oleh hakim administrasi sebagai keputusan yang bersifat melawan hukum. Secara tegas dinyatakan bahwa pihak yang berwenang untuk menyatakan penundaan pelaksanaan atau sah tidaknya suatu KTUN adalah hakim administrasi. Menjadi sebuah persoalan hukum manakala dalam putusan perkara  nomor 53/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2017/PN Jkt.Pst dinyatakan bahwa SK Menkumham yang menjadi legal standing penggugat harus diuji keabsahannya terlebih dahulu sehingga mengakibatkan gugatan tidak dapat diterima. Hakim dalam perkara ini telah melampaui kewenangannya karena hakim pada peradilan umum tidak memiliki kewenangan untuk menilai sah tidaknya sebuah KTUN.
 
Publisher Universitas Kristen Satya Wacana
 
Date 2018-09-14
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion
Peer-reviewed Article
 
Format application/pdf
 
Identifier http://ejournal.uksw.edu/refleksihukum/article/view/1909
10.24246/jrh.2018.v2.i2.p139-152
 
Source Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum; Vol 2 No 2 (2018): Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum; 139-152
2541-5417
2541-4984
10.24246/jrh.2018.v2.i2
 
Language ind
 
Relation http://ejournal.uksw.edu/refleksihukum/article/view/1909/958
 
Rights Copyright (c) 2018 Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum
http://creativecommons.org/licenses/by/4.0
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library