CAMPUR KODE BAHASA JAWA PADA SIARAN RADIO GARUDA FM DI DESA DADITUNGGAL, KECAMATAN PLOSO, KABUPATEN JOMBANG

SASTRANESIA (Jurnal Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia)

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title CAMPUR KODE BAHASA JAWA PADA SIARAN RADIO GARUDA FM DI DESA DADITUNGGAL, KECAMATAN PLOSO, KABUPATEN JOMBANG
 
Creator Alima, ALIMA
 
Description dapat disimpulkan bahwa sosiolingustik adalah ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa dalam masyarakat.Campur kode merupakan salah satu kajian sosiolingustik, Chaer dan Agustin (2004:114) menyatakan, dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode yang lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanya terjadi serpihan-serpihan (pieces) saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai kode.Warsiman (2014:96)  membagi dua ciri campur kode yaitu  (1)  adanya timbal balik antara peranan dan fungsi ke bahasaan Peranan maksudnya siapa yang menggunakan bahasa itu, dalam arti apa sifat-sifat khusus penutur (latar belakang, sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan, dan sebagainya), sedangkan fungsi kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya. Fungsi menentukan sejauh mana bahasa yang dipakai oleh penutur memberi kesempatan untuk bercampur kode. (2) dan Unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri atau tidak memiliki keotonomian sebagai sebuah kode. Unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip dalam bahasa lain dibedakan menjadi dua golongan, yakni : (a) yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya, dan (b) yang bersumber dari bahasa asing. Campur kode dengan unsur-unsur golongan pertama disebut campur kode ke dalam (inner code-mixing), sedangkan campur kode yang unsur-unsurnya dari golongan kedua disebut campur kode ke luar (outer code-mixing) Warsiman juga  (2014:96-97) menjelaskan tiga alasan yang mendorong terjadinya campur kode yang meliputi identifikasi peranan, identifikasi,ragam, dan keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan. Warsiman (2014:97-98) membagi campur kode menjadi enam unsur yang berwujud kebahasaan yang meliputi (1) penyisipan unsur-unsur yang yang berwujud kata, (2) penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa, (3) penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster (4) penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata, (5) penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom, (6) penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa.Pokok permasalahan campur kode pada siaran  acara Dangdut Protanika Garuda FM terletak pada bahasa yang digunakan secara berselang-seling oleh penyiar dan penelpon. Adanya penguasaan dua bahasa atau lebih yang menyebabkan campur kode dalam tuturan penyiar dan penelpon.
 
Publisher STKIP PGRI Jombang
 
Contributor
 
Date 2017-05-30
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion
Peer-reviewed Article
 
Format application/vnd.openxmlformats-officedocument.wordprocessingml.document
 
Identifier https://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/sastra/article/view/86
10.32682/sastranesia.v1i1.86
 
Source SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
2598-8271
2337-7712
 
Language eng
 
Relation https://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/sastra/article/view/86/31
 
Rights Copyright (c) 2017 Journal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library