Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk sebagai Teks yang Hegemonik

ATAVISME

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk sebagai Teks yang Hegemonik
SI BULUS-BULUS SI RUMBUK-RUMBUK SEBAGAI TEKS YANG HEGEMONIK
 
Creator Harahap, Muharrina
Faruk, Faruk
Salam, Aprinus
 
Subject hegemony, postcolonial, discourse, Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk
hegemoni, pascakolonial, wacana, Willem Iskander, Si Bulus-Bulus Si Rumbuk- Rumbuk
 
Description This study aims to explain the text of Willem Iskander's Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk in postcolonial discourse. The text and the author were very contradictory and paradoxical. In one side, the discourse of resistance are revealed,  but on the other hand it also kept the discourse on colonial construction. This writer uses the postcolonial approach and discursive method to analyze the penomenon. This study uses the discourse that was built by two experts, Rodgers and Harahap, who concentrated on researching the texts of Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk and Willem Iskander. Through this discursive method, the writer reconstruct the opinions of the two experts using postcolonial perspective. Beside looked at the text, the writer also consider in social, political, and the Mandailing people culture as supporting culture. The results show that Willem Iskander is an ambivalent figure. A figure who voiced resistance as well as a figure who obeyed colonial construction. The implications of this article can give a theoretical contribution to postcolonial studies of literature, especially Mandailing literature
Artikel ini membahas tentang karya sastra Mandailing yang berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk karya Willem Iskander pada era kolonial. Tinjauan ini dimulai dengan melihat fenomena yang terjadi dalam penciptaan dan penerbitan teks tersebut. Teks Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk dan kehidupan pengarangnya sangat kontradiktif dan paradoks. Di satu sisi mewacanakan resistensi namun di sisi lain mewacanakan konstruksi kolonial. Untuk mengkaji fenomena tersebut, penulis menggunakan pendekatan pascakolonial dan metode diskursif. Penulis menggunakan diskursus yang dibangun oleh dua orang pakar yang fokus meneliti tentang teks Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk dan Willem Iskander. Kedua pakar tersebut yaitu, Rodgers dan Harahap. Melalui metode diskursif ini, penulis mengkonstruksi ulang pendapat kedua pakar tersebut dengan menggunakan perspektif pascakolonial. Selain melihat teks, penulis juga melihat konteks sosial, politik, dan budaya orang Mandailing sebagai pendukungnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Willem Iskander merupakan tokoh yang ambivalen. Tokoh yang menyuarakan resistensi dan tokoh yang patuh pada konstruksi kolonial.
 
Publisher Balai Bahasa Jawa Timur
 
Contributor
Universitas Negeri Medan, Prof. Faruk, Dr. Aprinus Salam
 
Date 2019-06-26
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion

 
Format application/pdf
 
Identifier https://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/view/549
10.24257/atavisme.v22i1.549.88-100
 
Source ATAVISME; Vol 22, No 1 (2019): ATAVISME; 88-100
2503-5215
1410-900X
 
Language eng
 
Relation https://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/view/549/350
https://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/downloadSuppFile/549/226
https://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/downloadSuppFile/549/227
 
Rights Copyright (c) 2019 ATAVISME
http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library