Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz and Pav) Sebagai Antiinflamasi pada Tikus Putih Jantan Galur Spague Dawley

Jurnal Farmagazine

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz and Pav) Sebagai Antiinflamasi pada Tikus Putih Jantan Galur Spague Dawley
 
Creator Setiawan, Abdul Aziz
s.farm, M.Sc, Sefi Megawati
S.Farm, Dinda Nisa
 
Description Sirih merah merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih merah sebagai antiinflamasi. Inflamasi adalah suatu respon protektif tubuh terhadap jejas. Pengobatan inflamasi yang banyak digunakan masyarakat adalah Obat Antiinflamasi Non Steroid (OAINS) sebagai terapi antiinflamasi, namun memiliki efek samping berupa perdarahan pada saluran cerna. Penelitian uji aktivitas antiinflamasi menggunakan metode edema buatan pada telapak kaki tikus dengan menggunakan karagenan 1% sebagai zat pembuat udem. Uji efek antiinflamasi menggunakan tikus putih jantan galur Sprague-dawley sebanyak 24 ekor tikus terbagi dalam 6 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol normal (Na-CMC), kelompok kontrol positif (Na diklofenak), kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan ekstrak dengan variasi dosis 10mg/200gBB, 20mg/200gBB dan 30mg/200gBB yang diberikan secara per oral. Pengukuran volume udem kaki tikus diukur menggunakan alat pletismometer, dilakukan setiap 1 jam selama 6 jam. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirih merah memberikan efek antiinflamasi pada tikus putih jantan yang diinjeksi karagenan 1%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara setiap kelompok perlakuan dengan kontrol normal. Pada dosis ekstrak 10mg/200gBB, 20mg/200gBB dan 30mg/200gBB menunjukkan tidak ada perbedaan secara bermakna dengan kontrol positif pada taraf uji 0,05.
Kata kunci : sirih merah, antiinflamasi, udem

PENDAHULUAN
Inflamasi adalah respon perlindungan normal terhadap cidera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia berbahaya atau agen mikrobiologi. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktifkan atau menghancurkan organisme penginvasi, menghilangkan iritan, dan persiapan tahapan untuk perbaikan jaringan. Bila penyembuhan telah sempurna, proses inflamasi biasanya mereda. Reaksi inflamasi dapat diamati dari gejala klinis yaitu timbul warna kemerah-merahan (rubor) karena adanya aliran darah yang berlebihan pada daerah cedera, peningkatan panas (kalor) merupakan respon inflamasi pada permukaan tubuh, pembengkakan (tumor) karena pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke daerah interstitial, nyeri (dolor) karena adanya penekanan jaringan akibat edema, dan gangguan fungsi (function laesa) (Katzung, 2001). Inflamasi atau radang merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat. Inflamasi memiliki angka kejadian yang cukup tinggi, dimana inflamasi dapat disebabkan oleh trauma fisik, infeksi maupun reaksi antigen dari penyakit, seperti terpukul benda tumpul dan infeksi bakteri pada luka terbuka (timbulnya nanah pada luka) yang dapat menimbulkan nyeri dan mengganggu aktivitas (Noer dan Wasradji, 1986).
Pengobatan pasien dengan inflamasi pada umumnya untuk memperlambat atau membatasi proses kerusakan jaringan yang terjadi pada daerah inflamasi (Tjay dan Rahardja, 2007). Berdasarkan mekanisme kerjanya ada dua golongan obat untuk mengatasi inflamasi, yaitu obat antiinflamasi steroid dan obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Adapun yang banyak di konsumsi oleh masyarakat adalah obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Pemakaian OAINS dalam waktu lama dapat menyebabkan ulserasi dan perdarahan pada saluran pencernaan bawah. Dilaporkan bahwa OAINS menyebabkan luka permukaan dengan mempengaruhi integritas membran mukosa saluran cerna.
Indonesia terkenal akan beragam jenis tumbuhan, pemanfaatannya telah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Salah satu tumbuhan yang secara empiris telah banyak digunakan masyarakat adalah sirih merah. Telah dilaporkan bahwa sirih merah memiliki aktivitas sebagai antiinflamasi diduga aktivitas antiinflamasi berasal dari kandungan kimia seperti alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid (Werdhany, 2008). Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun sirih merah sebagai antiinflamasi pada tikus putih jantan galur Sprague-dawley dan konsentrasi atau dosis ekstrak etanol daun sirih merah yang dapat memberikan aktivitas antiinflamasi.

METODE PENELITIAN
Alat
Alat yang digunakan seperti kandang tikus, tempat makanan dan minuman tikus, timbangan berat badan tikus, neraca analitik (O’haus), alat-alat gelas
 
Publisher STF Muhammadiyah Tangerang
 
Contributor LPMM STF Muhammadiyah
 
Date 2016-08-01
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion

 
Format application/pdf
 
Identifier https://ejournals.stfm.ac.id/index.php/JurnalFarmagazine/article/view/30
10.47653/farm.v3i2.30
 
Source Jurnal Farmagazine; Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Farmagazine; 1-6
Jurnal Farmagazine; Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Farmagazine; 1-6
2621-8216
2302-4933
10.47653/farm.v3i2
 
Language eng
 
Relation https://ejournals.stfm.ac.id/index.php/JurnalFarmagazine/article/view/30/21
 
Rights ##submission.copyrightStatement##
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library