SPIRITUALITAS IBADAH DALAM TRADISI METHODIST DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title SPIRITUALITAS IBADAH DALAM TRADISI METHODIST DI TENGAH PANDEMI COVID-19
 
Creator Wiguna, Bone Pandu
 
Subject
 
Description Beribadah sering hanya diartikan sebagai kegiatan umat untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Ibadah di gereja akan mengangkat kerohanian mereka dan memberi harapan yang lebih menyenangkan dalam kehidupan mereka.Ibadah yang berasal dari kata abodah, berarti melayani, memberikan sesuatu kepada Tuan (Tuhan) yang sudah lebih dulu bertindak. Jadi ibadah merupakan jawab manusia atas tindakan Allah yang terlebih dulu berfirman, bertindak, dan memberi kepada manusia.Ibadah harus peka terhadap perubahan yang terjadi tentang kenyataan hidup dan perubahan pandangan-pandangan manusia. Ibadah haruslah bersangkut-paut dengan keadaan nyata dalam hidup ini. Ibadah dapat menjadi sumber untuk pembaharuan gereja. Pengalaman beribadah dapat merupakan saat untuk mengkomunikasikan isi dari pengajaran Alkitab kepada kenyataan keseharian kita.Ibadah yang diperkenalkan Wesley mendukung dan merangsang pembaharuan.Ia tidak mencoba untuk mengubah secara besar-besaran ibadah Inggris, namun ia mendukung perubahan-perubahan yang timbul yang mengubah baik bentuk maupun maksud dari ibadah.John Wesley menghargai liturgi dan Ekaristi dalam tradisi gereja Anglikan. Tetapi dia, walaupun pada mulanya agak terpaksa, akhirnya mengakui nilai-nilai praktis kotbah spontan, doa bebas dan nyanyian pujian. Inilah sumbangasih Wesley yang terpenting dalam sejarah keKristenan di Inggris pada abad 18 tentang liturgy gereja.Kotbah spontan dilakukan dikarenakan John tidak punya cukup waktu untuk menuliskan semua kotbahnya, dimana dia harus berkotbah sehari kadang lebih dari satu kali.Kotbahnya bersifat doctrinal, etis, tetapi selalu bersemangat.Hampir semua “Pengajaran atau doktrin Wesleyan” itu terdapat dalam kotbah-kotbahnya.Doa bebas dilakukan sebagai tambahan dari doa2 yang sudah ada dalam liturgy Anglikan.Nyanyian2 digubah (olah Charles Wesley) untuk situasi/ibadah2 tertentu.Wesley menggunakan nyanyian pujian menjadi alat mengajar dan alat untuk mengubahkan seseorang. Nyanyian pujian merupakan suatu penyataan theologia dan sebagai suatu sarana dalam menjalankan pengajaran Alkitabnya.John Wesley bukan saja mempengaruhi isi dan cara dari ibadah-ibadah di Inggris, ia juga memperkenalkan bentuk-bentuk baru dalam beribadah. Kebaktian Larut Malam (Watch Night Service).Perjamuan Kasih (Love Feast Service) dan Kebaktian Perjanjian dan Kebaktian Perjanjian (Covenant Renewal Service).Wesley agak segan untuk menyimpang dari ibadah Anglikan, tapi ia bersedia untuk memberikan tambahan-tambahan bentuk baru dan beberapa penghapusan. Ada dua kriteria: (1)apakah mereka sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan dari gereja kuno? Dan (2)apakah ini memiliki kuasa untuk membawa keselamatan?Apakah tradisi ini masih penting untuk masa kini?    Tradisi dapat dan harus digunakan. Tradisi harus digunakan secara cermat dengan mengambil daripadanya hal-hal yang dapat bermanfaat bagi Ibadah didalam suatu jemaat modern. Ibadah harusnya “diubah menurut keragaman dari Negara, waktu, tingkah laku orang-orangnya sehingga tidak ada yang ditetapkan yang melawan perintah Allah”.Fokus dalam Gereja Methodist adalah hasil dari ibadah itu sendiri dan bukan pada peristiwa atau tindakan ibadah itu saja. Itu sebabnya pada akhir khotbah hampir selalu dilakukan “Altar Calling”  (“Panggilan Kemuridan”).Hubungan Ibadah dengan pengabaran Injil janganlah diabaikanIbadah harus terjadi diluar dinding-dinding bangunan Gereja. Karena pekabaran Injil tidak selalu harus berarti mengumpulkan orang kedalam Gereja.            Situasi di Indonesia sekarang dengan wabah pandemi Covid-19 membuktikan, bahwa Gereja harus inovatif dalam beribadah. Tidak ada lagi ibadah dalam gedung gereja. Gereja melakukan inovasi dalam ibadah on line. Kotbah2 yang di up load di media massa, FB, twiter, instagram dll memungkinkan didengar oleh banyak orang.  Dalam situasi Wabah korona ibadah bukan hanya pada kesaksian melalui kata, melainkan dengan tindakan nyata. Ibadah tradisionil harus ditinggalkan dan diganti dengan ibadah inovatif, sesuai dengan tehnologi yang dimiliki.
 
Publisher Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
 
Contributor
 
Date 2020-07-24
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion

 
Format application/pdf
 
Identifier https://jurnalvow.sttwmi.ac.id/index.php/jvow/article/view/55
10.36972/jvow.v3i2.55
 
Source Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama; Vol 3, No 2 (2020): J.VoW Vol 3. No. 2 (2020); 55-65
2686-0198
2580-7900
10.36972/jvow.v3i2
 
Language eng
 
Relation https://jurnalvow.sttwmi.ac.id/index.php/jvow/article/view/55/pdf_2
 
Rights Copyright (c) 2020 Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library