KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 013-022/PUU-IV/2006 TENTANG PEMBATALAN PASAL PENGHINAAN TERHADAP PRESIDEN

Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 013-022/PUU-IV/2006 TENTANG PEMBATALAN PASAL PENGHINAAN TERHADAP PRESIDEN
KAJIAN KRITIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 013-022/PUU-IV/2006 TENTANG PEMBATALAN PASAL PENGHINAAN TERHADAP PRESIDEN
 
Creator Bangsawan, Adhya Satya
 
Description Tulisan ini membahas argumentasi hukum yang digunakan oleh Makamah Konstitusi (MK) dalam Putusan MK Nomor 013-022/PUU-IV/2006. Putusan tersebut menguji konstitusionalitas Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 KUHP dimana terdapat larangan penghinaan terhadap presiden/wakil presiden yang kemudian dibatalkan oleh MK dengan konklusi pasal penghinaan terhadap presiden bukan merupakan suatu perbuatan tindak pidana. Tulisan ini bermaksud untuk menyatakan bahwa pembatalan pasal penghinaan terhadap presiden/wakil presiden tersebut, secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak yuridis bagi perlindungan terhadap martabat presiden/wakil presiden itu sendiri. Kebebasan berpendapat merupakan hak berekspresi yang sifatnya terbatas, oleh sebab itu tulisan ini juga memberikan argumentasi bahwa larangan penghinaan presiden/wakil presiden merupakan pembatasan yang konstitusional terhadap kebebasan berpendapat. Tulisan ini hendak menekankan pula bahwa status presiden/wakil presiden tidak dapat disamakan dengan rakyat biasa karena statusnya sebagai kepala negara sekaligus simbol negara.
This article discusses the legal reasoning used by the Indonesian Constitutional Court in its Decision No. 013-022/PUU-IV/2006. The object of the constitutionality review is Article 134, 136 bis, and 137 of the Indonesian Criminal Code which contained the ban of insult action toward the president/vice president. Those norms have been declared null and void based on the argument that those norms were not criminal acts. Hence, this article stresses that the annulment of those norms may give negative legal consequences toward the protection of president/vice president’s dignity. Freedom of speech is categorized as a right of expression in which its performance is undertaken restrictively. This article argues that the ban of insult action toward the president/vice president is a constitutional limitation to the freedom of speech. The status of president/vice president shall not be considered as equal with ordinary people since the president/vice president is the head of state and also the symbol of the state.
 
Publisher Universitas Kristen Satya Wacana
 
Date 2019-12-22
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion
Peer-reviewed Article
 
Format application/pdf
 
Identifier https://ejournal.uksw.edu/refleksihukum/article/view/2787
10.24246/jrh.2019.v4.i1.p97-114
 
Source Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum; Vol 4 No 1 (2019): Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum; 97-114
2541-5417
2541-4984
10.24246/jrh.2019.v4.i1
 
Language ind
 
Relation https://ejournal.uksw.edu/refleksihukum/article/view/2787/1338
 
Rights Copyright (c) 2019 Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum
http://creativecommons.org/licenses/by/4.0
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library