PENGGUNAAN HOT SPOT ANALYSIS UNTUK MENENTUKAN KLASTER EKONOMI WILAYAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

Jurnal Geografi

View Publication Info
 
 
Field Value
 
Title PENGGUNAAN HOT SPOT ANALYSIS UNTUK MENENTUKAN KLASTER EKONOMI WILAYAH DI PROVINSI JAWA TENGAH
 
Creator Kurniawan, Andri
Lestari, Any
 
Description The dominance of certain economic structures tends to encourage the formation of spatial clusters. With changes and shifts in the regional economic structure, it will also have an impact on shifting regional economic clusters. The research carried out is aimed at achieving the goal of identifying regional economic clusters and their spatial dynamics using Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi *) in Central Java Province. This research will be conducted using quantitative methods by utilizing secondary data. The time period used in this study is to compare conditions in 2010 with 2018. The two-year data is used to analyze the spatial dynamics of economic clusters in Central Java Province. The data used to determine economic clusters are data on GDP at constant prices and GDP at constant prices per capita of all regencies/cities. To analyze the spatial variations of economic clusters in regencies/cities in Central Java Province, Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi *) is used which is included in the Geographic Information System (GIS) software. From the results of PDRB data processing regencies/cites Constant Price, in Central Java Province two Hot Spot clusters were formed, namely the Demak Regency cluster and the Semarang City cluster as the first Hot Spot cluster, and Cilacap and Banyumas Regencies as the second Hot Spot cluster. During its development, the Demak Regency-Semarang City cluster has expanded spatially with the addition of the Semarang and Kendal Regencies. On the other hand, the expansion of the cluster did not occur in the Cilacap-Banyumas cluster, but instead, there was a reduction in cluster strength. Furthermore, from the processing of Getis Ord Gi * for per capita income data, in this case, measured from the GDP per capita constant price in 2010, it shows that in Central Java Province not only Hot Spots are formed but also Cold Spots are formed. This illustrates that in Central Java Province there are still areas with per capita income that are still lagging behind other regions. A different condition occurred in 2018, where the Cold Spot has actually expanded and no Hot Spot is found anymore. This illustrates that areas that are relatively underdeveloped are actually experiencing an expansion, which was originally only from Banjarnegara Regency which expanded to Wonosobo Regency.
Dengan adanya perubahan dan pergeseran struktur ekonomi wilayah akan berdampak pula pada pergeseran klaster ekonomi wilayah. Penelitian yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yaitu mengindentifikasi klaster ekonomi wilayah beserta dinamika spasialnya dengan menggunakan Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi*) di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder. Periode waktu yang digunakan dalam kajian ini yaitu membandingkan kondisi antara tahun 2010 dengan tahun 2018. Data dua tahun tersebut digunakan untuk menganalisis dinamika spasial klaster ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Data yang digunakan untuk menentukan klaster ekonomi yaitu data PDRB Harga Konstan dan PDRB Harga Konstan Per Kapita seluruh kabupaten/kota. Untuk menganalisis variasi spasial klaster ekonomi wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah digunakan Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi*) yang terdapat dalam software Sistem Informasi Geografi (SIG). Dari hasil pengolahan data PDRB Harga Konstan kabupaten/kota, di Provinsi Jawa Tengah terbentuk dua klaster Hot Spot, yaitu klaster Kabupaten Demak dan Kota Semarang sebagai klaster Hot Spot pertama, dan Kabupaten Cilacap dan Banyumas sebagai klaster Hot Spot kedua. Dalam perkembangannya, klaster Kabupaten Demak-Kota Semarang mengalami perluasan secara spasial dengan bertambahnya wilayah Kabupaten Semarang dan Kendal. Disisi lain, perluasan klaster tidak terjadi di klaster Cilacap-Banyumas tetapi justru terjadi pengurangan kekuatan klaster. Selanjutnya dari pengolahan Getis Ord Gi* untuk data pendapatan perkapita, dalam hal ini diukur dari PDRB Harga Konstan perkapita tahun 2010, menunjukkan di Provinsi Jawa Tengah tidak hanya terbentuk Hot Spot namun juga terbentuk Cold Spot. Hal tersebut menggambarkan bahwa di Provinsi Jawa Tengah masih terdapat daerah dengan pendapatan perkapita yang masih tertinggal dibanding daerah lain. Kondisi yang berbeda terjadi pada Tahun 2018, dimana untuk Cold Spot justru mengalami perluasan dan tidak ditemui lagi Hot Spot. Hal tersebut menggambarkan bahwa wilayah yang relatif tertinggal justru mengalami perluasan yang semula hanya Kabupaten Banjarnegara meluas ke Kabupaten Wonosobo.
 
Publisher Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang
 
Date 2020-11-30
 
Type info:eu-repo/semantics/article
info:eu-repo/semantics/publishedVersion
 
Format application/pdf
 
Identifier http://geografi.ppj.unp.ac.id/index.php/geo/article/view/1409
10.24036/geografi/vol9-iss2/1409
 
Source JURNAL GEOGRAFI; Vol 9 No 2 (2020); 95-106
JURNAL GEOGRAFI; Vol 9 No 2 (2020); 95-106
2614-6525
2086-7042
 
Language ind
 
Relation http://geografi.ppj.unp.ac.id/index.php/geo/article/view/1409/558
 
Rights Copyright (c) 2020 Andri Kurniawan, Any Lestari
http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
 

Contact Us

The PKP Index is an initiative of the Public Knowledge Project.

For PKP Publishing Services please use the PKP|PS contact form.

For support with PKP software we encourage users to consult our wiki for documentation and search our support forums.

For any other correspondence feel free to contact us using the PKP contact form.

Find Us

Twitter

Copyright © 2015-2018 Simon Fraser University Library